Select Page

Oleh Ryan Kiryanto – 1 Mei 2023
(Ekonom, Strategic Partner Dobelicons dan Associate Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia/LPPI)

Dalam berbagai momen penulis kerap menyampaikan pandangan bahwa prospek pemulihan ekonomi global bergerak lebih cepat dari yang diperkirakan sebelumnya. Tentu ada alasan atau dasar pertimbangan sehingga penulis sampai pada simpulan itu.

Penulis cukup aktif mengikuti berbagai diskusi global dengan beberapa lembaga internasional, semisal Dana Moneter Internasional (IMF), Bank Dunia, Bank Pembangunan Asia (ADB) dan Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) yang dari waktu ke waktu menghembuskan aura optimisme: perkembangan ekonomi global menunjukkan sinyal perbaikan dibandingkan 2020 dan 2021, bahkan 2022.

Menurut rilis OECD terbaru (24/2), prospek ekonomi global ”sedikit lebih baik” untuk 2023, meskipun risiko inflasi tetap ada. Itu merupakan salah satu poin penting dari OECD. Pada poin berikutnya dikatakan, prospek ekonomi dunia sedikit lebih cerah pada awal 2023 daripada yang diduga pada dua atau tiga bulan sebelumnya.

Untuk poin tambahan, OECD menyoroti bank sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve, yang harus mengambil tindakan agresif di tahun lalu” terkait kenaikan suku bunga kebijakan untuk mengendalikan tekanan harga atau inflasi yang melonjak drastis.

Belum sampai dua bulan sejak rilis OECD beredar, pekan lalu rilis World Economic Outlook (WEO) edisi April (12/4) oleh IMF melaporkan adanya tiga poin penting. Pertama, dalam kurun waktu lima tahun ke depan dari sekarang, pertumbuhan global diperkirakan berkisar 3%, suatu perkiraan jangka menengah terendah dalam WEO selama lebih dari 30 tahun.

Kedua, dalam jangka pendek, IMF berharap pertumbuhan global sebesar 2,8% tahun ini dan 3% pada 2024, pemotongan 0,1% untuk tahun ini dan berikutnya dari perkiraan Januari lalu. Dinamika di sektor perbankan pada Maret lalu dituding menjadi penyebab utamanya.

Ketiga, IMF membuat perkiraan WEO edisi April ini berdasarkan asumsi bahwa tekanan di sektor keuangan baru-baru ini terkendali dengan baik. Artinya, jika dampak negatif jatuhnya beberapa bank regional di AS dan Eropa (Swiss dan Jerman) tidak terkendali, maka dampak negatif ke pemulihan ekonomi global makin membesar.

Disimpulkan, dalam jangka menengah ekonomi dunia diperkirakan tidak akan kembali ke tingkat pertumbuhan yang pernah terjadi pada masa sebelum pandemi Covid-19. Negara-negara maju diperkirakan mengalami perlambatan pertumbuhan, dari 2,7% pada 2022 menjadi 1,3% pada 2023. Ekonomi AS akan tumbuh 1,6% tahun ini dan zona euro 0,8%. Namun, Inggris terlihat berkontraksi 0,3%.

Produk domestik bruto (PDB) Tiongkok diperkirakan meningkat 5,2% pada 2023, dan India 5,9%. Sementara ekonomi Rusia yang mengalami kontraksi lebih dari 2% pada 2022 lalu- akan tumbuh 0,7% tahun ini.

Faktor dominan yang mempengaruhi dunia pada 2022 —yaitu stance kebijakan moneter ketat oleh bank sentral untuk menekan inflasi, penyangga fiskal yang terbatas untuk menyerap guncangan di tengah level utang yang tinggi, lonjakan harga komoditas dan fragmentasi geoekonomi karena perang Rusia di Ukraina, dan pembukaan kembali ekonomi Tiongkok tampaknya berlanjut di 2023 ini. Tetapi saat ini faktor dominan itu berinteraksi kuat dengan masalah stabilitas sektor keuangan.

Inflasi masih membayangi

Prospek ekonomi dunia yang sedikit melandai menurut IMF pada 2023 ini pun masih dibayangi dengan inflasi yang bertengger tinggi, meskipun harga energi telah turun signifikan karena negara-negara di Eropa mampu “berhasil” mendiversifikasi sumber energinya. Selain itu, “musim dingin yang jinak” membantu mengurangi permintaan energi sehingga mampu menjaga harga gas tetap rendah.

Meskipun begitu, risiko inflasi tetap ada dan perlu dibenahi dengan baik. Inflasi mulai menurun, tetapi masih berada jauh di atas target di setiap negara ekonomi maju yang sebesar 2%. Ada lebih banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk mengatasi inflasi dan itu datang dengan risiko, yakni pelemahan ekonomi untuk sesaat. Dan inilah risiko yang perlu terus dikelola dengan baik selama berbulan-bulan, sebelum inflasi melandai dan ekonomi kembali bergairah.

Secara spesifik OECD menyoroti langkah The Fed yang mengambil “tindakan agresif tahun lalu,” dalam hal kenaikan suku bunga kebijakan untuk mengendalikan tekanan harga atau inflasi yang melonjak di luar perkiraan. Sekarang The Fed dituntut terus melawan inflasi dengan cara yang lebih stabil dan smooth sehingga memberikan optimisme bahwa ekonomi AS tidak akan jatuh ke jurang resesi.

Seperti halnya saran OECD, IMF pun berharap bank-bank sentral di seluruh dunia melakukan hal yang kurang lebihnya sama, untuk terus memantau data perkembangan harga dan laju inflasi sehingga terus mampu menyesuaikan keputusan secara tepat dan terukur.

Pada Maret lalu, bank sentral AS menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin dan memberikan sedikit indikasi mendekati akhir siklus kenaikan. Pada saat yang sama, berbagai kalangan menyoroti pembukaan kembali Tiongkok yang diyakini sangat positif dalam perjuangan global untuk mengatasi lonjakan inflasi seraya menjaga momentum pemulihan. 

Pada awal Desember tahun lalu, pemerintahan Beijing tiba-tiba beralih dari kebijakan nol-Covid-19 ke kebijakan longgar mengawali pembukaan aktivitas ekonomi. Langkah ini dalam jangka menengah-panjang sangat positif dalam memastikan rantai pasokan global berfungsi lebih efisien dan efektif, memastikan bahwa permintaan di Tiongkok dan volume perdagangan global secara umum berlanjut dalam pola yang lebih positif.

Pandangan OECD dan IMF di atas selaras dengan analisis Munich Re (dalam Outlook Ekonomi Munich Re) bahwa perekonomian global pada 2023 akan ditandai dengan pertumbuhan yang lemah, namun tetap positif di tengah inflasi yang tinggi. Kondisi ini lebih disebabkan oleh konsekuensi perang di Ukraina, ekses kenaikan harga energi dan pangan yang tajam disertai suku bunga kebijakan yang lebih tinggi. 

Menariknya, di tengah upaya mengendalikan inflasi melalui jalur suku bunga acuan, terjadinya gejolak di sektor perbankan baru-baru ini memaksa pembuat kebijakan di bank sentral Eropa (European Central Bank/ECB) untuk memikirkan kembali kenaikan suku bunga acuan, meskipun masih fokus pada inflasi.

Inflasi utama di zona euro turun secara signifikan pada Maret lalu menjadi 6,9% secara tahunan, sebagian besar sebagai akibat dari penurunan harga energi. Namun inflasi inti –yang tidak memasukkan harga energi, makanan, alkohol, dan tembakau yang bergejolak– naik ke level tertinggi sepanjang masa sebesar 5,7%.

Pandangan agar ECB berhenti sejenak untuk menaikkan suku bunga acuan diilhami oleh analisis bahwa jatuhnya beberapa bank di AS sebagai akibat menanggung beban yang terlalu tinggi dari langkah The Fed yang secara agresif menaikkan suku bunga acuan (saat itu 4,75%-5,0%).

Kekhawatiran akan terjadinya efek menular oleh runtuhnya Silicon Valley Bank (SVB) di AS pada awal Maret lalu yang menyebabkan jatuhnya beberapa bank regional lainnya di AS, lalu memuncak dalam penyelamatan darurat Credit Suisse (CS) oleh sesama bank raksasa Swiss, yakni UBS di Eropa.

Meskipun kepanikan pada saat itu sempat menyebabkan investor dan deposan keluar dari sektor perbankan setempat, namun kondisi pasar berubah menjadi tenang di tengah konsensus bahwa kegagalan bank adalah hasil dari “kelemahan istimewa dalam model bisnis bank”, bukan pada masalah sistemik.

Faktanya, ECB tetap menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin pada pertengahan Maret lalu di puncak gejolak perbankan, meskipun ada beberapa seruan agar bank sentral berhenti sejenak. Namun di waktu berikutnya, beberapa anggota Dewan Pemerintahan mencatat risiko dampak ekonomi karena suku bunga acuan terus meningkat dalam upaya mengatasi inflasi.

Optimis di tengah fragmentasi

Pertumbuhan ekonomi di zona euro dan AS akan melemah pada 2023 sebagai “dampak yang logis” dari kenaikan suku bunga acuan yang kontraktif bagi perekonomian. Dampak makroekonomi negatif dari inflasi yang tinggi terhadap pendapatan riil rumah tangga akan dimitigasi oleh pasar tenaga kerja yang relatif stabil dan angka ketenagakerjaan yang solid.

Hal ini jugalah yang menjadi dasar pertimbangan bank-bank sentral di negara-negara maju –terutama The Fed—untuk melanjutkan kenaikan suku bunga acuan, meskipun dengan besaran persentase kenaikan yang lebih kecil (lazimnya 25 basis poin).

Temuan utama dari Economic Outlook yang dihasilkan oleh para pakar Munich Re’s Economic Research patut menjadi sandaran optimisme. Pertama, pertumbuhan ekonomi global diperkirakan relatif rendah –meskipun  berada di zona positif– pada 2023. Kedua, di negara-negara industri, inflasi tinggi dan penurunan pendapatan riil memberikan tekanan nyata pada permintaan barang konsumen. 

Sedangkan bagi kalangan korporasi, kondisi pembiayaan yang kurang menguntungkan karena suku bunga yang mahal telah menghambat investasi mereka. Kondisi ini membuat para pelaku usaha menjadi lebih agile dan adaptif menghadapi dinamika lingkungan usaha sehingga mampu bertahan dan tumbuh berkembang lebih tangguh.

Ketiga, negara-negara maju di Eropa dan AS diperkirakan akan mengalami stagflasi, yaitu kondisi dimana pertumbuhan ekonomi riil rendah (namun tetap positif) dikombinasikan dengan inflasi tinggi. Pertumbuhan riil di AS dan zona euro kemudian bisa naik lagi secara signifikan menjadi di atas 1% pada 2023 dan 2024. Ini sesuai dengan perkiraan terkini IMF bahwa pertumbuhan ekonomi global akan mencapai 2,8% (2023) dan 3,0% (2024).

Keempat, pertumbuhan ekonomi global pada 2023 dan 2024 akan ditopang hampir secara eksklusif oleh pasar negara berkembang, utamanya Asia dengan motornya India (tumbuh 5,9% di 2023 dan 6,3% di 2024) dan Indonesia (5,0% di 2023 dan 5,1% di 2024). 

Tentu saja Tiongkok akan melanjutkan peran sebagai mesin pertumbuhan global. Hanya saja, konsekuensi dari gelombang Covid-19 yang intens dan masalah di pasar real estate terus menghambat pembangunan ekonomi di sana. Sementara pertumbuhan diperkirakan akan sedikit pulih pada 2023 berkisar 5,2% dan 4,5% pada 2024 dibandingkan 2022 yang 3,0%.

Divergensi pertumbuhan ekonomi antara negara maju dengan negara berkembang itulah yang dikhawatirkan oleh IMF, tanpa disadari banyak kalangan, melahirkan fragmentasi ekonomi global di tengah seruan lembaga ini untuk mendorong terjadinya kerjasama global dimana negara yang perekonomiannya solid membantu negara yang perekonomiannya sulit, teritama negara-negara miskin (low income countries).

Akhirnya dapat disimpulkan, ruang pemulihan ekonomi global yang lebih cepat dari perkiraan sebelumnya akan sedikit terhambat karena tekanan dari krisis sektor keuangan di Eropa dan AS, namun akan segera kembali membaik di tahun depan ketika persoalan inflasi dan geopolitik bisa dikelola dengan baik dan efektif. ***